Senyum yang Kembali, Luka yang Mengering - Langkah Kecil di Bawah Langit Sore - Menjaga Nyala yang Abadi
Senyum yang Kembali, Luka yang Mengering
Alhamdulillah, badai yang kemarin bergemuruh hebat,
perlahan mulai menyisakan riak yang lebih bersahabat.
Hari ini kulihat kondisimu mulai kembali tenang,
setelah berhari-hari jiwa kita dihantam gelombang yang kencang.
perlahan mulai menyisakan riak yang lebih bersahabat.
Hari ini kulihat kondisimu mulai kembali tenang,
setelah berhari-hari jiwa kita dihantam gelombang yang kencang.
Meski sesekali lisanmu masih menyelipkan sindiran tajam,
aku menerimanya dengan senyum dan hati yang telanjur paham.
Sarkasmemu adalah sisa jelaga dari api kecewa yang belum padam,
sebuah pengingat agar aku tak lagi ceroboh membawa kita ke dalam malam.
aku menerimanya dengan senyum dan hati yang telanjur paham.
Sarkasmemu adalah sisa jelaga dari api kecewa yang belum padam,
sebuah pengingat agar aku tak lagi ceroboh membawa kita ke dalam malam.
Aku tidak akan mengeluh atau berbalik merasa tersinggung,
sebab ketulusanmu bertahan di sisiku jauh lebih agung.
Biarlah kata-kata pedas itu menjadi obat yang mendewasakan,
meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan yang dulu sempat kupertahankan.
sebab ketulusanmu bertahan di sisiku jauh lebih agung.
Biarlah kata-kata pedas itu menjadi obat yang mendewasakan,
meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan yang dulu sempat kupertahankan.
Terima kasih telah memilih untuk baik-baik saja hari ini,
meski luka di hatimu belum sembuh seutuhnya rapi.
Perlahan kita tata kembali puing rumah yang sempat goyah,
menghargai setiap proses tanpa harus merasa lelah.
meski luka di hatimu belum sembuh seutuhnya rapi.
Perlahan kita tata kembali puing rumah yang sempat goyah,
menghargai setiap proses tanpa harus merasa lelah.
Kita jalani hari ini dengan kepala tegak dan dada yang lapang,
membiarkan gunjingan di luar sana perlahan hilang dan terbang.
Sebab selama kau masih ada di sini, bersedia bicara meski mencela,
aku tahu rumah ini masih memiliki harapan untuk kembali bahagia.
membiarkan gunjingan di luar sana perlahan hilang dan terbang.
Sebab selama kau masih ada di sini, bersedia bicara meski mencela,
aku tahu rumah ini masih memiliki harapan untuk kembali bahagia.
Langkah Kecil di Bawah Langit Sore
Sore ini kita melangkah keluar dari pintu yang sama,
meninggalkan sejenak riuh rendah dunia yang penuh drama.
Di bawah langit yang perlahan berganti warna keemasan,
aku ingin menuntunmu kembali pada rasa aman.
meninggalkan sejenak riuh rendah dunia yang penuh drama.
Di bawah langit yang perlahan berganti warna keemasan,
aku ingin menuntunmu kembali pada rasa aman.
Mari kita nikmati angin yang berembus tanpa banyak menuntut,
membiarkan sisa-sisa amarah dan kecewa perlahan larut.
Perjalanan ini bukan untuk melarikan diri dari kenyataan,
tapi cara kita bernapas, mencari ruang untuk saling menguatkan.
membiarkan sisa-sisa amarah dan kecewa perlahan larut.
Perjalanan ini bukan untuk melarikan diri dari kenyataan,
tapi cara kita bernapas, mencari ruang untuk saling menguatkan.
Jika nanti di jalan lisanmu kembali menyelipkan sindiran,
aku akan mendengarnya dengan senyum dan penuh kesabaran.
Sebab berjalan di sisimu—meski dalam balutan sisa luka—
adalah pembuktian bahwa kita tidak akan menyerah pada masa.
aku akan mendengarnya dengan senyum dan penuh kesabaran.
Sebab berjalan di sisimu—meski dalam balutan sisa luka—
adalah pembuktian bahwa kita tidak akan menyerah pada masa.
Menjaga Nyala yang Abadi
Doa tertinggal di antara deru angin sore yang kita lalui,
berharap tenang ini tak seperti pelangi yang lekas mati.
Aku pun cemas pada hari esok yang masih misteri,
takut jika tawa hari ini kembali berubah sepi yang merundung diri.
berharap tenang ini tak seperti pelangi yang lekas mati.
Aku pun cemas pada hari esok yang masih misteri,
takut jika tawa hari ini kembali berubah sepi yang merundung diri.
Namun ketakutan tak akan mengubah apa-apa menjadi nyata,
ia hanya menguras energi yang kita punya untuk menata.
Maka hari ini kupilih untuk merawat setiap jengkal perubahan,
menjadikan sabarku sebagai pondasi, bukan sekadar pelarian.
ia hanya menguras energi yang kita punya untuk menata.
Maka hari ini kupilih untuk merawat setiap jengkal perubahan,
menjadikan sabarku sebagai pondasi, bukan sekadar pelarian.
Semoga pulihnya senyummu bukan hanya jeda dari sebuah amarah,
melainkan langkah awal kita untuk kembali melangkah searah.
Aku akan terus belajar mendengar, menahan ego, dan berbenah,
agar kau tak lagi merasa sendirian menanggung lelah.
melainkan langkah awal kita untuk kembali melangkah searah.
Aku akan terus belajar mendengar, menahan ego, dan berbenah,
agar kau tak lagi merasa sendirian menanggung lelah.
Kita jaga nyala hangat ini bersama, hari demi hari yang bergulir,
memastikan komitmen kita tak ikut menguap dan berakhir.
Sebab rumah ini layak untuk diperjuangkan seumur hidup kita,
menjadi tempat paling aman, jauh dari badai dunia luar sana.
memastikan komitmen kita tak ikut menguap dan berakhir.
Sebab rumah ini layak untuk diperjuangkan seumur hidup kita,
menjadi tempat paling aman, jauh dari badai dunia luar sana.
Komentar
Posting Komentar