Senyum yang Kembali, Luka yang Mengering - Langkah Kecil di Bawah Langit Sore - Menjaga Nyala yang Abadi
Senyum yang Kembali, Luka yang Mengering Alhamdulillah, badai yang kemarin bergemuruh hebat, perlahan mulai menyisakan riak yang lebih bersahabat. Hari ini kulihat kondisimu mulai kembali tenang, setelah berhari-hari jiwa kita dihantam gelombang yang kencang. Meski sesekali lisanmu masih menyelipkan sindiran tajam, aku menerimanya dengan senyum dan hati yang telanjur paham. Sarkasmemu adalah sisa jelaga dari api kecewa yang belum padam, sebuah pengingat agar aku tak lagi ceroboh membawa kita ke dalam malam. Aku tidak akan mengeluh atau berbalik merasa tersinggung, sebab ketulusanmu bertahan di sisiku jauh lebih agung. Biarlah kata-kata pedas itu menjadi obat yang mendewasakan, meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan yang dulu sempat kupertahankan. Terima kasih telah memilih untuk baik-baik saja hari ini, meski luka di hatimu belum sembuh seutuhnya rapi. Perlahan kita tata kembali puing rumah yang sempat goyah, menghargai setiap proses tanpa harus merasa lelah. Kita jalani hari ini denga...
