Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

PUISI

  Menata Retak di Atap yang Sama Di bawah atap yang mulai terasa asing, kita duduk berteman sunyi yang bising. Meja makan saksi bisu kata-kata yang urung, berubah menjadi tembok tinggi yang mengurung. Dulu, ruang tengah ini penuh tawa hangat, kini berganti tatapan dingin yang menyengat. Saling menyalahkan ego yang tak mau mengalah, mengaburkan pintu keluar dari lilitan masalah. Janji suci di altar waktu dulu kita ikrarkan, kini terombang-ambing di tengah lautan ujian. Apakah badai ini hadir untuk menghancurkan, atau justru menguji sekokoh apa pondasi bangunan? Mari sejenak turunkan senjata angkuhmu, aku pun akan meredam gemuruh di dadaku. Sebab rumah ini terlalu berharga untuk runtuh, kita hanya perlu waktu untuk kembali utuh. Sebelum malam menutup pintu komunikasi, mari kita rakit kembali puing-puing rasa yang mati. Sebab badai pasti memiliki waktu untuk reda, dan pelukanmu adalah tempatku pulang yang sesungguhnya. Kerikil di Dalam Rumah Ada riuh yang tak biasa di sudut ruang, buk...

Postingan Terbaru

STANDARISASI INDUSTRI DAN HAK CIPTA

Mengenai Industri