Pasang Surut Luka yang Belum Usai - Langkah yang Menyalakan Api - Menjemput Fajar yang Baru
Pasang Surut Luka yang Belum Usai
Badai itu kini punya polanya sendiri,
kadang reda bagai air tenang di pagi hari.
Kita bisa tertawa seolah tak pernah ada luka yang menyengat,
menikmati sisa-sisa kehangatan yang kembali mendekat.
kadang reda bagai air tenang di pagi hari.
Kita bisa tertawa seolah tak pernah ada luka yang menyengat,
menikmati sisa-sisa kehangatan yang kembali mendekat.
Namun aku tahu, di balik tenang yang kasat mata,
ada ingatan yang sewaktu-waktu bisa membuka cerita.
Terungkit kembali tanpa aba-aba, lewat satu kata atau tatapan mata,
membawa kembali gemuruh kecewa yang sempat kita kira telah sirna.
ada ingatan yang sewaktu-waktu bisa membuka cerita.
Terungkit kembali tanpa aba-aba, lewat satu kata atau tatapan mata,
membawa kembali gemuruh kecewa yang sempat kita kira telah sirna.
Saat ia reda, aku bersyukur dalam sujud yang dalam,
menumpuk bekal sabar sebelum hari kembali malam.
Dan saat ia kembali terungkit oleh lisanmu yang perih,
aku memilih berdiri, memeluk amarahmu tanpa harus selisih.
menumpuk bekal sabar sebelum hari kembali malam.
Dan saat ia kembali terungkit oleh lisanmu yang perih,
aku memilih berdiri, memeluk amarahmu tanpa harus selisih.
Ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui berdua,
menyembuhkan hati yang telanjur retak tak bisa seketika.
Aku tidak akan bosan mendengar jeda dan ulangan dukamu,
sebab akulah yang harus bertanggung jawab atas tenangmu.
menyembuhkan hati yang telanjur retak tak bisa seketika.
Aku tidak akan bosan mendengar jeda dan ulangan dukamu,
sebab akulah yang harus bertanggung jawab atas tenangmu.
Biarlah pasang surut ini menguji sekokoh apa kita bertahan,
hingga suatu hari nanti, saat masalah ini kembali diceritakan,
ia tak lagi membawa perih, tak lagi menyisakan tangisan,
melainkan sebuah babak lama yang berhasil kita menangkan.
hingga suatu hari nanti, saat masalah ini kembali diceritakan,
ia tak lagi membawa perih, tak lagi menyisakan tangisan,
melainkan sebuah babak lama yang berhasil kita menangkan.
Langkah yang Menyalakan Api
Setiap kali kukenakan sepatu dan menatap pintu keluar,
ada ketegangan yang mendadak hadir dan menjalar.
Tujuan perjalananku adalah rumah tempatku tumbuh dahulu,
namun bagimu, itu adalah tempat di mana lukamu membatu.
ada ketegangan yang mendadak hadir dan menjalar.
Tujuan perjalananku adalah rumah tempatku tumbuh dahulu,
namun bagimu, itu adalah tempat di mana lukamu membatu.
Bukan karena aku tak sayang pada rumah tangga kita,
namun ada ikatan darah yang juga tak bisa kubuang begitu saja.
Tapi aku paham, di matamu, langkahku ke sana terasa seperti khianat,
seolah aku berdiri di sisi mereka yang membuat hatimu tersayat.
namun ada ikatan darah yang juga tak bisa kubuang begitu saja.
Tapi aku paham, di matamu, langkahku ke sana terasa seperti khianat,
seolah aku berdiri di sisi mereka yang membuat hatimu tersayat.
Saat aku pergi sendiri, kau merasa ditinggalkan dalam sepi,
menanggung malu dan ganti rugi yang tak kunjung terpenuhi.
Saat aku mengajakmu, ruang itu terasa seperti neraka yang panas,
tempat di mana ketidakjujuran dibiarkan tanpa ada rasa mawas.
menanggung malu dan ganti rugi yang tak kunjung terpenuhi.
Saat aku mengajakmu, ruang itu terasa seperti neraka yang panas,
tempat di mana ketidakjujuran dibiarkan tanpa ada rasa mawas.
Sangkalan adikku di sana adalah duri yang menusuk dadamu,
dan kehadiranku di rumah itu bagai membenarkan ketidakadilanmu.
Kau marah bukan karena benci pada orang tuaku,
tapi karena kau merasa suamimu belum sepenuhnya berpihak pada lukamu.
dan kehadiranku di rumah itu bagai membenarkan ketidakadilanmu.
Kau marah bukan karena benci pada orang tuaku,
tapi karena kau merasa suamimu belum sepenuhnya berpihak pada lukamu.
Maafkan aku yang masih tertatih membagi langkah dan raga,
terjepit di antara bakti dan tanggung jawab menjaga rasa.
Kini kupahami marahmu adalah jeritan minta dibela,
dan aku harus belajar menahan diri, demi rumah kita yang utama.
terjepit di antara bakti dan tanggung jawab menjaga rasa.
Kini kupahami marahmu adalah jeritan minta dibela,
dan aku harus belajar menahan diri, demi rumah kita yang utama.
Menjemput Fajar yang Baru
Ketika bayang yang membawa lara tak lagi berada di sana,
ada seberkas cahaya yang perlahan menyelinap di antara jendela.
Kepergiannya dari rumah itu membawa pergi sebagian beban,
meninggalkan ruang kosong yang siap kita isi dengan ketenangan.
ada seberkas cahaya yang perlahan menyelinap di antara jendela.
Kepergiannya dari rumah itu membawa pergi sebagian beban,
meninggalkan ruang kosong yang siap kita isi dengan ketenangan.
Semoga hilangnya raga yang sempat menyulut api kemarahan,
menjadi awal berakhirnya badai dan mulainya pengampunan.
Tak ada lagi wajah yang memicu ingatmu pada luka yang perih,
tak ada lagi alasan untuk kita terus berselisih.
menjadi awal berakhirnya badai dan mulainya pengampunan.
Tak ada lagi wajah yang memicu ingatmu pada luka yang perih,
tak ada lagi alasan untuk kita terus berselisih.
Aku tahu kepercayaan yang retak tak bisa langsung rekat kembali,
namun dengan tiadanya dia, tak ada lagi duri yang menusuk setiap hari.
Kini rumah orang tuaku perlahan bisa kembali menjadi tempat bertamu,
tanpa harus membawa ketakutan dan membakar amarah di dadamu.
namun dengan tiadanya dia, tak ada lagi duri yang menusuk setiap hari.
Kini rumah orang tuaku perlahan bisa kembali menjadi tempat bertamu,
tanpa harus membawa ketakutan dan membakar amarah di dadamu.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai lembaran yang bersih,
menatap ke depan, menghapus pelan sisa-sisa rasa sedih.
Sebab badai terbesar telah berhasil kita lewati bersama,
kini saatnya merajut kembali sisa-sisa bahagia yang sempat tertunda.
menatap ke depan, menghapus pelan sisa-sisa rasa sedih.
Sebab badai terbesar telah berhasil kita lewati bersama,
kini saatnya merajut kembali sisa-sisa bahagia yang sempat tertunda.
Komentar
Posting Komentar