Menata Retak di Atap yang Sama
Di bawah atap yang mulai terasa asing,
kita duduk berteman sunyi yang bising.
Meja makan saksi bisu kata-kata yang urung,
berubah menjadi tembok tinggi yang mengurung.
kita duduk berteman sunyi yang bising.
Meja makan saksi bisu kata-kata yang urung,
berubah menjadi tembok tinggi yang mengurung.
Dulu, ruang tengah ini penuh tawa hangat,
kini berganti tatapan dingin yang menyengat.
Saling menyalahkan ego yang tak mau mengalah,
mengaburkan pintu keluar dari lilitan masalah.
kini berganti tatapan dingin yang menyengat.
Saling menyalahkan ego yang tak mau mengalah,
mengaburkan pintu keluar dari lilitan masalah.
Janji suci di altar waktu dulu kita ikrarkan,
kini terombang-ambing di tengah lautan ujian.
Apakah badai ini hadir untuk menghancurkan,
atau justru menguji sekokoh apa pondasi bangunan?
kini terombang-ambing di tengah lautan ujian.
Apakah badai ini hadir untuk menghancurkan,
atau justru menguji sekokoh apa pondasi bangunan?
Mari sejenak turunkan senjata angkuhmu,
aku pun akan meredam gemuruh di dadaku.
Sebab rumah ini terlalu berharga untuk runtuh,
kita hanya perlu waktu untuk kembali utuh.
aku pun akan meredam gemuruh di dadaku.
Sebab rumah ini terlalu berharga untuk runtuh,
kita hanya perlu waktu untuk kembali utuh.
Sebelum malam menutup pintu komunikasi,
mari kita rakit kembali puing-puing rasa yang mati.
Sebab badai pasti memiliki waktu untuk reda,
dan pelukanmu adalah tempatku pulang yang sesungguhnya.
mari kita rakit kembali puing-puing rasa yang mati.
Sebab badai pasti memiliki waktu untuk reda,
dan pelukanmu adalah tempatku pulang yang sesungguhnya.
Kerikil di Dalam Rumah
Ada riuh yang tak biasa di sudut ruang,
bukan karena kita, tapi udara yang mulai timpang.
Kehadiran adikmu membawa warna baru yang berbeda,
namun perlahan berubah menjadi duri di dalam dada.
bukan karena kita, tapi udara yang mulai timpang.
Kehadiran adikmu membawa warna baru yang berbeda,
namun perlahan berubah menjadi duri di dalam dada.
Aku mencoba melapangkan hati seluas samudra,
menerima ia sebagai bagian dari silsilah keluarga.
Namun batasan seringkali runtuh tanpa permisi,
memicu prasangka dan salah paham yang menguras energi.
menerima ia sebagai bagian dari silsilah keluarga.
Namun batasan seringkali runtuh tanpa permisi,
memicu prasangka dan salah paham yang menguras energi.
Kini kita berdiri di antara dua sisi dilema,
kau terjebak membela darah daging atau pasangan jiwa.
Setiap bisikannya memicu jarak di antara kita,
membuat rumah yang hangat kini terasa penuh curiga.
kau terjebak membela darah daging atau pasangan jiwa.
Setiap bisikannya memicu jarak di antara kita,
membuat rumah yang hangat kini terasa penuh curiga.
Mari bicara tanpa harus ada yang merasa tersisih,
bukan untuk memutus tali, tapi meluruskan yang selisih.
Sebab aku ingin mencintai seluruh duniamu tanpa tapi,
namun aku juga butuh ruang kita tetap terjaga rapi.
bukan untuk memutus tali, tapi meluruskan yang selisih.
Sebab aku ingin mencintai seluruh duniamu tanpa tapi,
namun aku juga butuh ruang kita tetap terjaga rapi.
Bantu aku mengurai benang kusut yang melilit ini,
agar ipar tak lagi jadi dinding pemisah di hati.
Sebab pada akhirnya, kemudi rumah ini ada di tangan kita,
menjaga badai luar tak merusak pondasi cinta.
agar ipar tak lagi jadi dinding pemisah di hati.
Sebab pada akhirnya, kemudi rumah ini ada di tangan kita,
menjaga badai luar tak merusak pondasi cinta.
Terjepit di Antara Dua Cinta
Seketika langit rumah kita mendadak legam,
saat sekat kepercayaan runtuh dan menghantam.
Tangan darah dagingku mengambil yang bukan haknya,
meninggalkan luka robek pada rasa aman di rumah kita.
saat sekat kepercayaan runtuh dan menghantam.
Tangan darah dagingku mengambil yang bukan haknya,
meninggalkan luka robek pada rasa aman di rumah kita.
Istriku berdiri dengan amarah dan kecewa yang nyata,
ia terluka, merasa dikhianati di ruang paling rahasia.
Aku tak bisa menyalahkannya atas penolakan ini,
sebab tindakan keliru itu memang merusak harga diri.
ia terluka, merasa dikhianati di ruang paling rahasia.
Aku tak bisa menyalahkannya atas penolakan ini,
sebab tindakan keliru itu memang merusak harga diri.
Kini aku berdiri di tengah badai yang membelah dada,
satu sisi adalah adik yang salah namun tetap keluarga,
sisi lain adalah belahan jiwa yang haknya wajib kubela.
Dilema ini mencekik, membuat nafasku terasa hampa.
satu sisi adalah adik yang salah namun tetap keluarga,
sisi lain adalah belahan jiwa yang haknya wajib kubela.
Dilema ini mencekik, membuat nafasku terasa hampa.
Aku tidak akan membela kesalahan yang kasat mata,
hukum kebenaran harus tegak di atas meja kita.
Namun di hadapanmu, istriku, aku memohon ruang tenang,
bantu aku bersikap adil tanpa membuat ikatan kita guncang.
hukum kebenaran harus tegak di atas meja kita.
Namun di hadapanmu, istriku, aku memohon ruang tenang,
bantu aku bersikap adil tanpa membuat ikatan kita guncang.
Mari kita selesaikan ini dengan kepala dingin yang bijak,
memperbaiki yang rusak, menuntun yang salah kembali berjejak.
Sebab rumah ini harus tetap aman dari segala ancaman,
meski badai kali ini datang dari orang yang kusebut persaudaraan.
memperbaiki yang rusak, menuntun yang salah kembali berjejak.
Sebab rumah ini harus tetap aman dari segala ancaman,
meski badai kali ini datang dari orang yang kusebut persaudaraan.
Komentar
Posting Komentar