Di Ujung Batas Kemampuan - Membatu di Dalam Kecewa

 Di Ujung Batas Kemampuan

Kata maaf telah kuucapkan dengan kepala tertunduk,
mengakui salah langkah yang membuat situasi kian memburuk.
Ego yang kemarin menyala kini telah padam dan mati,
berganti rasa bersalah yang mencabik-cabik sudut hati.
Namun badai ini belum mau beranjak pergi,
ketika kenyataan menampar tentang tuntutan ganti rugi.
Aku ingin mengembalikan setiap sen yang hilang demi tenangnya jiwamu,
namun tangan ini terlalu rapuh, dompet ini terlalu kosong untuk mengabulkanmu.
Sulit... begitu sulit mewujudkan apa yang kau minta,
di tengah beban hidup dan nama baik yang telanjur cacat di mata semesta.
Adikku memilih lari dalam ingkar dan menutup mata,
sementara aku di sini tertatih, memikul utang moral yang tak terhingga.
Istriku, aku tidak sedang mencari-cari alasan untuk menghindar,
aku hanya sedang memperlihatkan luka dan celengan yang berantakan di kamar.
Aku tahu ikhlasmu terasa berat dan mungkin berselimut kecewa,
namun inilah batas terjauh dari kemampuan yang kumiliki sebagai jiwa.
Kini jendela rumah telah kututup rapat dari gunjingan orang,
tinggal kita berdua di dalam ruangan yang terasa makin lengang.
Beri aku waktu, atau tuntun aku bagaimana harus melangkah,
sebab di hadapan kejujuran yang pahit ini, aku telanjur menyerah.

Membatu di Dalam Kecewa
Aku telah menaruh seluruh isi hatiku di atas meja,
mengakui kalah, mengakui salah, tanpa ada yang tersisa.
Namun kutahu, kata maaf tak cukup kuat untuk membasuh,
dinding kekecewaan di matamu yang kini terlanjur kokoh dan angkuh.
Responmu tetap dingin, membeku dalam rasa terluka yang dalam,
membuat suasana di antara kita terasa lebih pekat dari malam.
Tak ada aset yang bisa dicairkan, tak ada jalan pintas yang bisa kutempuh,
sementara tuntutanmu adalah kepastian yang ingin segera berlabuh.
Aku paham, kau merasa menjadi korban yang paling merana,
dipermalukan oleh gunjingan orang, dikhianati pula oleh keluarga.
Kini, ketidakmampuanku mengganti rugi memperparah segala luka,
membuatku tampak sebagai suami yang gagal menjaga takhta.
Tak ada lagi argumen yang ingin dan mampu kulontarkan,
aku hanya bisa diam, berdiri di sisi ruang yang kausingkirkan.
Menatapmu yang kecewa, menatap diriku yang tak berdaya,
menyaksikan rumah tangga kita sedang diuji di titik paling bahaya.
Kini biarlah waktu yang berjalan tanpa banyak kata,
aku menerima setiap dingin dan sisa amarah yang kaupunya.
Sebab kutahu, badai di dalam dada jauh lebih menyiksa,
daripada riuh rendah suara orang-orang di luar sana.

Komentar

Postingan Populer